Translate

Selasa, 22 Oktober 2013

EMAS DI UJUNG MONAS & BUSWAY DI KELOPAK MATA (Selumbar & Balok)



Dalam sebuah sebuah pertemuan dengan membentangkan selembar kertas putih, lalu memberi titik hitam di tengahnya, saya memberi pertanyan “apa yang dapat kita lihat di kertas ini?” dan hampir semua anggota komunitas menjawab bahwa mereka melihat sebuah titik hitam di selembar kertas putih. Saudara yang dikasihi Tuhan, setidaknya ini memberi gambaran kepada kita bahwa kita lebih tertarik melihat setitik kesalahan di tengah luasnya kebaikan yang dimiliki oleh orang lain. Bukankah setitik bulatan hitam di tengah kertas dikelilingi oleh luasnya bagian kertas putih itu sendiri.


Tuhan Yesus berkata “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."  (Matius 7:3-5)

Perkataan Tuhan Yesus ini memberikan pengajaran kepada setiap orang percaya

Pertama:
Sifat manusia cenderung gampang melihat kesalahan orang lain ketimbang kesalahan dirinya sendiri

Kedua:
Tidak mungkin kita dapat merubah orang lain jika kita sendiri tidak menyediakan diri terlebih dahulu untuk di ubah. Tidak mungkin kita dapat menyuruh orang lain melakukan sesuatu jika kita sendiri tidak pernah belajar melakukannya

Ketiga:
Cara terbaik untuk menjalani kehidupan dengan sesame adalah bersikap introspektif; sehingga kita tidak pernah menjadikan diri sebagai pribadi yang paling benar dan menganggap orang lain sebagai pribadi yang salah.

Lantas apakah ayat ini membuat kita menjadi tertutup dengan masukan dan nasehat. Seorang pengkhotbah pernah mengucapkan sebuah kalimat seperti ini “orang yang mengkritik berada bersebrangan dengan kita dan orang yang menasehati berada di pihak kita”.  Yang dapat saya simpulkan biarlah orang mengkritik kita, jika itu benar, mari kita berbesar hati untuk membenahi diri, tapi jika kita dikritik oleh pengkritik yang hatinya sedang berisik dan penuh kegalauan dengan sungguh-sungguh saya ingin katakan “abaikan saja” anggap saja kritikannya ibarat riak kecil di tengah laut untuk menegaskan bahwa angin masih bersahabat dengan laut.
Sejujurnya saya dan anda pasti suka dinasehati. Saya pernah dinasehati dengan cara yang sangat elegan dan terasa indah di telinga. Bukan dalam bentuk pujian tapi benar-benar dalam bentuk nasehat yang sesungguhnya sedang memperlihatkan kekurangan saya. Namun karena saya tahu penasehat saya adalah seorang pria yang baik, pria yang sabar memiliki ketulusan maka tidak mudah bagi saya untuk mengatakan iya dan berterimakasih.  Dari pengalaman tersebut saya simpulkan bahwa menasehati adalah sebuah seni, bukan sekedar menyampaikan rasa suka atau tidak suka, benar atau salah. Tapi bagaimana menyampaikan satu point penting tanpa ada embel-embel lain, apalagi dengan niat ingin menguasai, menyetir atau mengambil keuntungan.

”Jangan mengkritik apa yang tak kau pahami. Kau tidak akan pernah berada pada posisi orang itu.” - Elvis Presley -

”Setiap orang bodoh bisa mengkritik, menuduh dan mengeluh; dan kebanyakan orang bodoh melakukan hal itu.”  - Benjamin Franklin -

“Bukanlah kritik yang anda berikan untuk diperhitungkan; bukan orang yang menjatuhkan seseorang yang kuat atau seseorang yang hanya berniat untuk melakukan yang lebih baik namun tidak melakukannya. Manfaat dari kritik akan diterima oleh orang yang sedang berada di arena; yang wajahnya dipenuhi oleh debu, keringat, dan darah, yang berjuang, yang melakukan kesalahan dan gagal berulang kali; karena tidak ada usaha tanpa adanya kegagalan dan kesalahan. Namun manfaat terbesar diterima oleh seseorang yang meraih keberhasilan; seseorang yang memiliki antusiasme, dedikasi, seseorang yang menghabiskan waktu melakukan sesuatu yang berharga; seseorang yang mengetahui bahwa pada akhirnya ia akan memperoleh kemenangan. Dan kalaupun ia gagal, setidaknya ia gagal setelah berusaha dengan sangat keras. Sehingga tempat ia berada bukanlah bersama dengan orang-orang yang negatif dan penakut yang tidak pernah mengenal apa arti kemenangan atau kekalahan.” - Theodore Roosevelt –

”Ketika kita menghakimi atau mengkritik orang lain, kritik tersebut tidak tertuju pada orang yang anda kritik; kritik tersebut mengatakan sesuatu tentang kebutuhan pribadi kita untuk menjadi kritis.”
- Anonim –

”Saya belum menemukan seorang pun, terlepas dari apapun kedudukannya, yang tidak bekerja dengan lebih baik bahkan memberikan segenap kemampuannya jika ia mendapatkan pengakuan dibandingkan dengan jika ia bekerja dibawah kritik.” - Charles Schwab -

~Shalom~

Sabtu, 19 Oktober 2013

SAAT ADA MASALAH TUHAN TIDAK PERGI

Kitab Daniel 6:1-29 Mengisahkan tentang satu cerita legendaris, dimana seorang pria pilihan Allah yang (ditawan) atau dalam bahasa saya ditugaskan untuk memberkati bangsa-bangsa lain.  Melalui cerita ini saya menyimpulkan bahwa:
SAAT MASALAH DATANG TUHAN TIDAK PERNAH PERGI

Perikop yang diberi judul Gua Singa diawali dengan cerita bahwa Raja Darius Mengangkat Daniel bersama tiga orang lainnya untuk membawahi 120 wakil raja yang ditempatkan di seluruh wilayah kerajaan Raja Darius orang Media. Ketiga pejabat tinggi ini masing-masing membawahi 40 orang.
Setelah melihat prestasi kerjanya,  Raja bermaksud mengangkat daniel sebagai Perdana menteri di kerajaannya (ayat 4)

Hal inilah yang sebenarnya menjadi pemicu tragedi gua singa, kedua pejabat tinggi dan 120 wakil raja mengadakan Konspirasi tinggkat tinggi, dengan membujuk raja untuk mengeluarkan sebuah Kepra (Keputusan Raja) bahwa barang siapa dalam 30 hari ada yang menyampaikan permohonan kepada Allah atau dewa lain selain kepada Raja Darius maka ia akan di masukkan ke dalam gua singa.

Paling tidak ada tiga point yang dapat di pelajari dari cerita tentang gua singa:
  1. Masalah harus dihadapi dengan doa dan puji-pujian:Pujian dan doa menempati unsur penting dalam kehidupan orang percaya. Yesus menyanyikan pujian (Matius 26:30) Pintu penjara terbongkar saat pujian di naikkan dan kepala penjara di Filipi bertobat (KPR 16:25), Paulus memberi nasehat bahwa pengikut Kristus harus menaikan Mazmur, Pujian dan nyanyian rohani (Kol 3:16), Mazmur 22:4 mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas pujian orang Israel, bahkan roh jahat yang diijinkan Allah untuk hinggap pada Saul menjadi mundur  saat Daud memetik kecapinya. Dan saya yakin Daud memainkan nyanyian pujian kepada Allah melalui kecapinya.
  2. Masalah membuat kita sadar akan kuasa Allah: Kuasa Allah seringkali memutar balikkan perkiraan manusia. Allah sanggup membuat singa-singa tidak selera makan terhadap Daniel. Daniel menyebutnya dengan mengatakan bahwa Malaikat Allah menutup mulut singa-singa. Bila kita mengacu kepada Ibrani 1:14 kita dapat memiliki keyakinan bahwa salah satu cara Tuhan menolong umatnya dengan cara mengirim pasukan malaikat. Demikian juga yang dialami oleh Elisa yang tertulis dalam kitab 2 Raja-Raja 6:15-17.
  3. Masalah & Solusinya bertujuan agar dunia tahu akan kuasa Allah : saat masalah datang pasti Allah akan memberikan solusinya. Dan solusi yang Allah nyatakan kepada Daniel dengan menyelamatkan Daniel tanpa cidera membuat Raja Darius mengakui kekuasaan Tuhan atas kehidupan manusia.  Dan saat kita membaca titah Raja Darius kepada semua orang yang ada dalam wilayah kekuasaannya sangat menggambarkan pengalaman yang ia lihat saat Daniel bebas dan dipelihara oleh Allah secara luar biasa saat berada di dalam gua singa.  Perhatikanlah dalam ayat 29 kita mendapat satu catatan bahwa Daniel dianugerahi pangkat yang luar biasa oleh Raja Darius.
Allah sanggup melakukan segala perkara, Allah sanggup memutar balikkan fakta dan Allah siap melakukannya bagi anda. Shalom.




Senin, 07 Oktober 2013

Kehidupan Adalah Saling Menghadiri

Kehadiran kita penting bagi orang lain. Teristimewa pada moment special yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang mengenal dan kita kenal.

Ketujuh gambar ini adalah Saya, Boas dan Friska menemani ayah mertua saya R. Nainggolan menghadiri pernikahan di Gedung Balai Samudera Kelapa Gading, 13 September 2013.








Dan Gambar-gambar di bawah ini adalah saat Ibu Tukang urut langganan kami mengadakan pesta perkawinan puterinya pada hari minggu 6 oktober 2013:














Sabtu, 28 September 2013

Waktu Terus Melaju



Perjalanan sore dengan menembus kemacetan di sepanjang jalan Kalimalang Bekasi, akhirnya saya tiba di rumah salah satu jemaat untuk  melaksanakan tugas  sebagai pengkhotbah dalam acara ibadah keluarga. Ibadah tersebut selesai  kurang lebih jam 21.00 WIB. Dalam perjalanan pulang kembali kami harus melalui kepadatan kendaraan di jalanan cibitung -  bekasi, dan  setelah memanghabiskan waktu kurang lebih satu jam kami tiba di rumah. Seperti biasanya saya keluar dari pintu kanan depan,  membuka pintu  garasi, memutar kunci rumah kearah kanan, menguak daun pintu utama, menghidupkan lampu, cek ruangan depan hingga ke kamar mandi, karena memang pernah suatu malam saya menemukan seekor ular kecil yang berkunjung ke dalam rumah kami yang kosong setelah satu hari penuh kami tinggalkan karena ada aktifitas di luar. Setelah memastikan semua aman, baru saya ijinkan anak dan isteri masuk, terkecuali tadi malam saya harus menggendong anak saya yang pertama karena sudah terlelap di kursi depan  entah akibat kelelahan karena pulang cukup larut malam atau karena kekenyangan dengan suguhan konsumi yang “aduhai”  dari tuan rumah. Parkir mundur ke garasi, mengosongkan bagasi, periksa beberapa kunci, mengganti pakaian lalu duduk di depan televisi sejenak menikmati siaran ulang ILC acaranya Bang Karni Ilyas, dan kira-kira jam 24.30 saya masuk kamar dan memulai istirahat untuk tidur.
Tadi pagi, saya terbangun, lantas baca beberapa sms yang masuk, termasuk seorang anak muda yang harus dirawat inap di Rumah Sakit Karya Medika Tambun. Setelah membaca Alkitab, kemudian mendoakan jemaat yang sakit setelah itu  menolong isteri menghidupkan air, karena memang musim kemarau jadi air sumur dan mesinnya harus diperlakukan dengan khusus pula. Puji Tuhan! di musim kemarau seperti ini air kami termasuk melimpah, saya masih bebas mandi, mencuci dan melaksanakan aktifitas yang berkaitan dengan air lainnya.  Saat membersihkan kamar mandi entah kenapa tiba-tiba pikiran saya kembali kepada kejadian siang kemarin di mana saya menerima warisan buku tafsiran. Saya ingat pria yang mewariskan buku-buku tersebut sebelumnya aktif di gereja nya dan bahkan tidak jarang harus mempersiapkan khotbah, walau sebenarnya tidak menjabat sebagai gembala  sidang.  Dengan kondisi kesehatannya yang terbatas maka aktifitasnya pun menjadi terbatas, termasuk berkhotbah adalah hal yang tidak pernah dilakoninya lagi.
Perenungan saya sampai kepada apa yang dikatakan oleh tuan pengkhotbah yang berkata Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah  3:1). Tidak dapat dipungkiri kehidupan kita berjalan di dalam waktu, dibatasi oleh waktu bahkan dalam kalimat yang lebih ekstrim lagi diintimidasi oleh waktu.  Mungkin inilah perenungan terindah di bulan kelahiran saya; saya kembali diingatkan betapa waktu terus bergulir, dan seharusnya hal itu memacu saya dan kita semua untuk konsisten melakukan tugas dan panggilan hidup kita. Selama masih ada waktu kerjakan semuanya; bagi Tuhan, bagi keluarga, bagi anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita, terlebih bagi panggilan hidup kita. Sekali lagi tuan pegkhotbah berkata “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” Pengkhotbah 11:6

Sekian….

Inspirational Prayer of the Day