Translate

Tuesday, March 28, 2017

Generasi Muda yang bijaksana

Puji Tuhan kami ingin memberkati pembaca semua dengan sebuah presentasi khotbah yang kami beri judul "Generasi Muda yang bijaksana" . Presentasi ini mengupas bagaimana anak muda dapat membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya selaras dengan firman Tuhan. Silahkan cek dihttps://docs.google.com/presentation/d/1tIFvSXvjSON5zM6S-3qSCDwiFD9R962x_SWXPJcHVCU/edit?usp=sharing. Silahkan klik Download saat file sudah terbuka klik download as dan simpan jenis file sesuai dengan keinginan anda. Shalom


Pdt. John Ardi,.S.Th
Gembala GKII RTC
Rehobot Tambun City
Ruko RH 12 Tambun City
Bekasi

Saturday, March 25, 2017

Memikirkan Perenungan

Aku tujukan perhatianku untuk memahami, menyelidiki, dan mencari hikmat dan kesimpulan, serta untuk mengetahui bahwa kefasikan itu kebodohan dan kebebalan itu kegilaan.

Pengkhotbah 7:25

Pdt. John Ardi, S.Th
GKII RTC
Rehobot Tambun City
Ruko RH 12 Tambun City

Friday, March 24, 2017

Keberhasilan Yusuf

YUSUF BERHASIL KARENA DISERTAI TUHAN

KEJADIAN 39:1-23
(Pdt. John Ardi, S.Th)


Intro:
Seorang pemuda mengeluh kepada ayahnya:
  • Hidup  ini berat
  • Masalah satu selesai datang lagi masalah lain
  • Harga-harga tidak pasti
  • Kejahatan membuat takut
  • Masa depan misteri
  • Membuat putus asa

Ayahnya membawa anak muda ini ke dapur:
Tiba di dapur ayahnya masak air panas setelah mendidih  ia memasak  Wortel,  merebus telor dan Menyeduh kopi
“Apa artinya ini ayah?”
Wortel telur dan kopi telah melewati proses yang sama. Anggaplah proses itu tantangan atau kesulitan yang harus mereka alami. Direbus dengan air panas:

Wortel yang tadinya keras menjadi lunak: ada orang yang ketika berhadapan dengan kesulitan dan tantangan hidup yang tadinya tangguh dan kokoh tiba-tiba menjadi lembek dan menyerah.

Telor menjadi keras pada bagian dalam dan potensi kehidupannya mati: Ada orang yang oleh karena kesulitan hidup, dari luar telihat biasa saja, tapi di bagian dalamnya menjadi keras dan membatu, dan potensi-potensi yang ada dalam dirinya menjadi mati. Bahkan bisa mati secara rohani karena kurang memiliki relasi dengan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya.

Kopi mengeluarkan aroma yang harum dan nikmat setelah melalui proses penyiraman oleh air panas.  Itu adalah gambaran orang yang siap dibentuk, terutama oleh Allah, sehingga hidupnya semakin bertumbuh dalam pengelanan akan rencana Allah bagi kehidupannya.
Jenis yang manakah kita :
WORTEL, TELOR, KOPI

Yusuf melewati proses yang panjang, berat dan kejam. Namun Yusuf berhasil menunjukkan kualitasnya sebagai pengikut Tuhan.  Rahasianya adalah: PENYERTAAN ALLAH.  Apakah karakteritik yang dimiliki oleh Yusuf:

Pertama : Yusuf Memiliki Hati Yang Rela

a.  Kesayangan yakub  dibenci saudara-saudaranya
b.  Pemuda israel yang merdeka menjadi budak
c.  Budak potifar difitnah oleh isteri potifar lantas menjadi penghuni penjara (bukan lembaga pemasyarakatan)
d.  Yeremia 18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
e.  Yusuf rela mengikuti pimpinan Allah karena Pimpinan Allah tidak pernah salah.
f.   Kejadian 50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
g.  Apakah kita siap mengikuti kehendak Allah dalam hidup kita? Apakah kita masih mengeraskan hati?
Ibrani  4:7
Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu "hari ini", ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!"

Pengkhotbah  11:4
Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.

“Janganlah kita Menunggu semua orang menjadi bersih baru kita menggunakan sabun, atau janganlah kita menunggu semua orang menjadi pintar bari kita memutuskan untuk sekolah”

Kedua Yusuf Berkomitmen untuk hidup kudus bagi Allah

a.  Yusuf berhadapan dengan pilihan untuk jatuh dalam dosa bersama dengan Isteri Potifar
b.  Jawaban Yusuf “Kej 39:9 bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"
c.  Harga dari sebuah kehidupan yang kudus bagi Yusuf adalah penjara. Identitas Yusuf sebagai budak ditambah menjadi Budak Kriminal. Yusuf Masuk kategori orang jahat.
d.  Namun sekali lagi orang benar terbukti memiliki hal yang berbeda. Di dalam penjarapun Yusuf menjadi orang kepercayaan kepala penjara.
e.  Di dalam penjara Yusuf tetap dipakai oleh Allah untuk menafsirkan mimpi juru minum dan juru roti. Yang nantinya menjadi scenario yang Allah kehendaki agar Yusuf menafsirkan mimpi Raja Firaun yang berujung pada kebebasan dan kekuasaannya
f.   Apakah kita memutuskan untuk hidup dalam penghormatan kepada Allah?

Ketiga: Yusuf memiliki hati yang rela mengampuni
a.  Banyak alasan Yusuf untuk tenggelam dalam kepahitan hidup                          Dibenci oleh saudara-saudaranya
                      Dijual
                      Menjadi Budak
                      Difitnah
                      Penghuni Penjara
                      Dilupakan oleh juru minuman yang ditafsirkan mimpinya di dalam penjara oleh
                      Yusuf (Kejadian 40:23 Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman
                       itu, melainkan dilupakannya.)
b.   Yusuf “Move On” ia melanjutkan hidup
c.   Yusuf type orang yang dapat beradaptasi segera dengan segala keadaan
d.   Yusuf hidup dalam pengampunan dan kasih baik terhadap dirinya, saudara- 
      saudaranya, dan orang lain yang menyulitkan hidupnya.
4.       Kesimpulan:
a.       Yusuf Rela Dibentuk
b.       Yusuf Berkomitmen Untuk Hidup Kudus dan Hormat terhadap Allah
c.       Yusuf Rela Mengampuni

Pdt. John Ardi, S.Th
Gembala GKII RTC
Rehobot Tambun City

Wednesday, October 22, 2014

"Tuhan Tahu Seberapa Besar Yang Masih Tersisa"

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.  Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.  Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."  
Banyak orang menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk tidak memberi. Namun setelah berpunya dan menjadi kaya juga tidak menjadi jaminan bahwa seseorang secara otomatis mengambil keputusan untuk memberi. Seringkali orang yang berpunyalah yang menganggap diri paling tidak berpunya. Cicilan mobil mewah, cicilan rumah megah, pembayaran kartu kredit, bayaran yang tinggi bagi anak-anak yang disekolahkan di sekolah-sekolah bergengsi, deretan tagihan kursus/Les anak yang cukup panjang daftarnya, tabungan persiapan untuk liburan ke tempat wisata terindah di dalam atau di luar negeri dan masih banyak lagi, menjadi semacam alat "pemiskinan" dan pembenaran untuk tidak berkorban kepada Allah.

Kisah janda miskin ini termasuk kisah yang militan tentang bagaimana seseorang menghormati Allah. Janda miskin yang tidak disebutkan namanya bisa saja kita sebut sebagai orang yang "ceroboh" dalam mengelola kebutuhan kehidupannya; ia menghabiskan seluruh nafkahnya untuk dipersembahkan kepada Allah. Miskin yang disematkan pada dirinya bisa saja menjadi pembelaan yang kuat dan masuk akal untuk menjadi orang yang menadahkan tantang dari pada mengulurkan tangan.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, dari kisah janda miskin ini:

Pertama:Orang yang tak berpunya dan orang yang berpunya memiliki peluang yang sama untuk berinvestasi dalam kerajaan Allah.
Dalam Lukas 6:20 dikatakan " Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga;  di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Setiap pengikut Kristus seharusnya menyadari bahwa semua orang memiliki peluang yang sama untuk berinvesati di dalam kerajaan sorga. Tidak peduli betapa sedikit atau betapa banyaknya penghasilan seseorang, semua orang punya kesempatan untuk berinvestasi dalam kerajaan sorga.

Kedua:Sikap Terhadap Persembahan Ditentukan Oleh Sikap Seseorang Terhadap Uang

Orang yang diperbudak oleh uang tidak akan pernah memberikan persembahan yang sejati. Persembahan yang sejati terjadi saat seseorang melepaskan diri dari ikatan akan uang. Uang tidak jahat tapi cinta uanglah yang menjadikan orang jahat. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman  dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."

Ketiga:Persembahan Sejati Tidak Lepas Dari Kesiapan Berkorban

Kata berkorban mengandung penjelasan tentang rasa sakit, tidak nyaman, dan rela mengalami hal yang merugikan. Jada miskin ini memilih untuk merasakan rasa sakit demi penyembahannya kepada Allah. Ia mengorbankan seluruh nafkahnya (Markus 12:44)  Hari ini mungkin kita tidak diminta untuk mengorbankan seluruh waktu kita, seluruh tenaga kita, seluruh gaji atau keuntungan bulanan kita, tapi yang Allah minta, mari kita memiliki kerelaan hati untuk berkorban kepada Allah, bukan dengan sedih hati atau karena paksaan tapi dengan kerelaan (2 Korintus 9:7)

"Tuhan Bukan Hanya Melihat Seberapa Besar Yang Sedang Engkau Persembahankan Tapi Ia Juga Mengamati Seberapa Besar Yang Masih Engkau Sisakan Untuk Dirimu"

Pdt. John Ardi, S.Th
Gembala GKII RTC
Rehobot Tambun City



Tuesday, October 22, 2013

EMAS DI UJUNG MONAS & BUSWAY DI KELOPAK MATA (Selumbar & Balok)



Dalam sebuah sebuah pertemuan dengan membentangkan selembar kertas putih, lalu memberi titik hitam di tengahnya, saya memberi pertanyan “apa yang dapat kita lihat di kertas ini?” dan hampir semua anggota komunitas menjawab bahwa mereka melihat sebuah titik hitam di selembar kertas putih. Saudara yang dikasihi Tuhan, setidaknya ini memberi gambaran kepada kita bahwa kita lebih tertarik melihat setitik kesalahan di tengah luasnya kebaikan yang dimiliki oleh orang lain. Bukankah setitik bulatan hitam di tengah kertas dikelilingi oleh luasnya bagian kertas putih itu sendiri.


Tuhan Yesus berkata “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."  (Matius 7:3-5)

Perkataan Tuhan Yesus ini memberikan pengajaran kepada setiap orang percaya

Pertama:
Sifat manusia cenderung gampang melihat kesalahan orang lain ketimbang kesalahan dirinya sendiri

Kedua:
Tidak mungkin kita dapat merubah orang lain jika kita sendiri tidak menyediakan diri terlebih dahulu untuk di ubah. Tidak mungkin kita dapat menyuruh orang lain melakukan sesuatu jika kita sendiri tidak pernah belajar melakukannya

Ketiga:
Cara terbaik untuk menjalani kehidupan dengan sesame adalah bersikap introspektif; sehingga kita tidak pernah menjadikan diri sebagai pribadi yang paling benar dan menganggap orang lain sebagai pribadi yang salah.

Lantas apakah ayat ini membuat kita menjadi tertutup dengan masukan dan nasehat. Seorang pengkhotbah pernah mengucapkan sebuah kalimat seperti ini “orang yang mengkritik berada bersebrangan dengan kita dan orang yang menasehati berada di pihak kita”.  Yang dapat saya simpulkan biarlah orang mengkritik kita, jika itu benar, mari kita berbesar hati untuk membenahi diri, tapi jika kita dikritik oleh pengkritik yang hatinya sedang berisik dan penuh kegalauan dengan sungguh-sungguh saya ingin katakan “abaikan saja” anggap saja kritikannya ibarat riak kecil di tengah laut untuk menegaskan bahwa angin masih bersahabat dengan laut.
Sejujurnya saya dan anda pasti suka dinasehati. Saya pernah dinasehati dengan cara yang sangat elegan dan terasa indah di telinga. Bukan dalam bentuk pujian tapi benar-benar dalam bentuk nasehat yang sesungguhnya sedang memperlihatkan kekurangan saya. Namun karena saya tahu penasehat saya adalah seorang pria yang baik, pria yang sabar memiliki ketulusan maka tidak mudah bagi saya untuk mengatakan iya dan berterimakasih.  Dari pengalaman tersebut saya simpulkan bahwa menasehati adalah sebuah seni, bukan sekedar menyampaikan rasa suka atau tidak suka, benar atau salah. Tapi bagaimana menyampaikan satu point penting tanpa ada embel-embel lain, apalagi dengan niat ingin menguasai, menyetir atau mengambil keuntungan.

”Jangan mengkritik apa yang tak kau pahami. Kau tidak akan pernah berada pada posisi orang itu.” - Elvis Presley -

”Setiap orang bodoh bisa mengkritik, menuduh dan mengeluh; dan kebanyakan orang bodoh melakukan hal itu.”  - Benjamin Franklin -

“Bukanlah kritik yang anda berikan untuk diperhitungkan; bukan orang yang menjatuhkan seseorang yang kuat atau seseorang yang hanya berniat untuk melakukan yang lebih baik namun tidak melakukannya. Manfaat dari kritik akan diterima oleh orang yang sedang berada di arena; yang wajahnya dipenuhi oleh debu, keringat, dan darah, yang berjuang, yang melakukan kesalahan dan gagal berulang kali; karena tidak ada usaha tanpa adanya kegagalan dan kesalahan. Namun manfaat terbesar diterima oleh seseorang yang meraih keberhasilan; seseorang yang memiliki antusiasme, dedikasi, seseorang yang menghabiskan waktu melakukan sesuatu yang berharga; seseorang yang mengetahui bahwa pada akhirnya ia akan memperoleh kemenangan. Dan kalaupun ia gagal, setidaknya ia gagal setelah berusaha dengan sangat keras. Sehingga tempat ia berada bukanlah bersama dengan orang-orang yang negatif dan penakut yang tidak pernah mengenal apa arti kemenangan atau kekalahan.” - Theodore Roosevelt –

”Ketika kita menghakimi atau mengkritik orang lain, kritik tersebut tidak tertuju pada orang yang anda kritik; kritik tersebut mengatakan sesuatu tentang kebutuhan pribadi kita untuk menjadi kritis.”
- Anonim –

”Saya belum menemukan seorang pun, terlepas dari apapun kedudukannya, yang tidak bekerja dengan lebih baik bahkan memberikan segenap kemampuannya jika ia mendapatkan pengakuan dibandingkan dengan jika ia bekerja dibawah kritik.” - Charles Schwab -

~Shalom~

Saturday, October 19, 2013

SAAT ADA MASALAH TUHAN TIDAK PERGI

Kitab Daniel 6:1-29 Mengisahkan tentang satu cerita legendaris, dimana seorang pria pilihan Allah yang (ditawan) atau dalam bahasa saya ditugaskan untuk memberkati bangsa-bangsa lain.  Melalui cerita ini saya menyimpulkan bahwa:
SAAT MASALAH DATANG TUHAN TIDAK PERNAH PERGI

Perikop yang diberi judul Gua Singa diawali dengan cerita bahwa Raja Darius Mengangkat Daniel bersama tiga orang lainnya untuk membawahi 120 wakil raja yang ditempatkan di seluruh wilayah kerajaan Raja Darius orang Media. Ketiga pejabat tinggi ini masing-masing membawahi 40 orang.
Setelah melihat prestasi kerjanya,  Raja bermaksud mengangkat daniel sebagai Perdana menteri di kerajaannya (ayat 4)

Hal inilah yang sebenarnya menjadi pemicu tragedi gua singa, kedua pejabat tinggi dan 120 wakil raja mengadakan Konspirasi tinggkat tinggi, dengan membujuk raja untuk mengeluarkan sebuah Kepra (Keputusan Raja) bahwa barang siapa dalam 30 hari ada yang menyampaikan permohonan kepada Allah atau dewa lain selain kepada Raja Darius maka ia akan di masukkan ke dalam gua singa.

Paling tidak ada tiga point yang dapat di pelajari dari cerita tentang gua singa:
  1. Masalah harus dihadapi dengan doa dan puji-pujian:Pujian dan doa menempati unsur penting dalam kehidupan orang percaya. Yesus menyanyikan pujian (Matius 26:30) Pintu penjara terbongkar saat pujian di naikkan dan kepala penjara di Filipi bertobat (KPR 16:25), Paulus memberi nasehat bahwa pengikut Kristus harus menaikan Mazmur, Pujian dan nyanyian rohani (Kol 3:16), Mazmur 22:4 mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas pujian orang Israel, bahkan roh jahat yang diijinkan Allah untuk hinggap pada Saul menjadi mundur  saat Daud memetik kecapinya. Dan saya yakin Daud memainkan nyanyian pujian kepada Allah melalui kecapinya.
  2. Masalah membuat kita sadar akan kuasa Allah: Kuasa Allah seringkali memutar balikkan perkiraan manusia. Allah sanggup membuat singa-singa tidak selera makan terhadap Daniel. Daniel menyebutnya dengan mengatakan bahwa Malaikat Allah menutup mulut singa-singa. Bila kita mengacu kepada Ibrani 1:14 kita dapat memiliki keyakinan bahwa salah satu cara Tuhan menolong umatnya dengan cara mengirim pasukan malaikat. Demikian juga yang dialami oleh Elisa yang tertulis dalam kitab 2 Raja-Raja 6:15-17.
  3. Masalah & Solusinya bertujuan agar dunia tahu akan kuasa Allah : saat masalah datang pasti Allah akan memberikan solusinya. Dan solusi yang Allah nyatakan kepada Daniel dengan menyelamatkan Daniel tanpa cidera membuat Raja Darius mengakui kekuasaan Tuhan atas kehidupan manusia.  Dan saat kita membaca titah Raja Darius kepada semua orang yang ada dalam wilayah kekuasaannya sangat menggambarkan pengalaman yang ia lihat saat Daniel bebas dan dipelihara oleh Allah secara luar biasa saat berada di dalam gua singa.  Perhatikanlah dalam ayat 29 kita mendapat satu catatan bahwa Daniel dianugerahi pangkat yang luar biasa oleh Raja Darius.
Allah sanggup melakukan segala perkara, Allah sanggup memutar balikkan fakta dan Allah siap melakukannya bagi anda. Shalom.




Inspirational Prayer of the Day